Bagja Prawira, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Kalbis Institute Pendiri Komunitas Typist Bergerak Indonesia

08 Jan 2019
Share on Facebook
Share on Twitter

 

        

   Setiap orang pasti menginginkan dirinya menjadi pribadi yang kreatif, sukses dan bisa bermanfaat bagi banyak orang. Begitu pula, Bagja Prawira, mahasiswa tuli, jurusan Broadcasting Kalbis Institute angkatan 2013 termotivasi mendirikan sebuah komunitas yang bergerak di bidang jasa ketik closed captioning atau yang biasa kita kenal dengan subtitle.  Memfasilitasi teman-teman tuli mengakses informasi dalam bentuk video dan konten bergerak lainnya adalah tujuan utama dari Typist ini. Bukan hanya untuk teman tuli, komunitas ini juga didirkan sebagai wadah advokasi media khususnya si pembuat film untuk membudayakan subtitle pada setiap filmnya, sehingga para movie lover termasuk teman tuli juga bisa memahami sekaligus menikmati alur cerita dengan subtitle yang disajikan.

Pria yang disapa dengan Bagja ini, mendirikan komunitasnya pada 5 November 2018. Saat ini ada 15 orang pengurus inti dan total ada 250 orang volunteer yang tersebar di seluruh Indonesia. Pengurus tidak semua teman dengar, ada juga teman tuli.

“Teman tuli dikhususkan untuk advokasi dan sosialisasi agar masyarakat umum tahu sedikit tentang dunia disabilitas, sehingga teman tuli diwajibkan untuk masuk ke tim juru ketik, sementara teman dengar meng-copy-paste-kan dialog yang ada di media ke dalam subtittle”, ujar Bagja.

            Berawal dari pengalaman pribadinya lewat menonton film, ia merasa kesulitan untuk memahami jalan cerita film yang ia tonton, akhirnya di pertengahan tahun 2018 ia memutuskan untuk mendirikan sebuah komunitas non-profit yang bisa bermanfaat untuk teman-teman tuli seperti dirinya untuk bisa menikmati dan mengakses informasi tayangan. Saat ini sudah ada 2 film yang berhasil menjalin kerja sama dengan Typist Indonesia, yakni film Sesuai Aplikasi dan film restorasi dari tahun 1962, yaitu Bintang Kecil. Keduanya ini sudah diuji coba presentasikan ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Karena selaras dengan program pemerintah, yakni Cinta Film Indonesia, alhasil keduanya telah melakukan rapat kerja dengan perwakilan dari Pusat Pengembangan Perfilman (Pusbangfilm) pada November lalu.

Bagja menjelaskan jasa ketik subtitle di Typist Bergerak Indonesia sangat berbeda dengan jasa subtitle yang ada di pasaran. Jika di pasaran pasti menuntut profit, di komunitasnya karena bergerak di bidang sosial, semua dikerjakan dengan sukarela dan hanya butuh 3 modal, yaitu tanggung jawab, komitmen, dan keikhlasan sebagai modal dari segi sikap serta kemampuan mengoperasikan software Adobe Premiere dan Subtitle Edit sebagai modal pengetahuannya.

            Subtitle kami sangat berbeda dengan jasa subtitle di pasaran. Karena teman tuli memiliki kosakata yang terbatas, justru kita ada untuk mereka. Kita buatkan kosakata dalam bentuk subtitle yang kami create sendiri agar mudah dimengerti oleh teman tuli.”

            Bagja berharap dengan komunitas yang ia bentuk bisa menjadi pelopor dan dapat mengadvokasi para pembuat film untuk lebih membudayakan subtitle berbahasa Indonesia agar teman tuli tidak kesulitan memahami film.

            “Semoga Indonesia menjadi negara yang inklusif, salah satu caranya dengan meningkatkan aksesbilitas berupa subtitle Bahasa Indonesia di setiap tayangan, khususnya film karena teman tuli berhak mendapatkan hak yang sama juga dalam mengakses informasi”, imbuhnya.

Artikel Lain view all stories